02 Mei 2012

Nellys, Jujur Dan Luwes Bergaul

Sukses yang diraih Nellys tidak datang begitu saja. Terlahir dari pasangan buruh tani, ia hanya bisa menamatkan bangku sekolah menengah atas (SMA) di Ngawi, Jawa Timur.


Di kalangan para pedagang beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), sosok Nellys Soekidi sudah sangat populer. Memiliki lima kios dan gudang penyimpanan beras di PIBC, ia tercatat sebagai juragan beras yang cukup besar di Pasar Induk Beras Cipinang.

Selain memiliki lima kios di pasar induk, ia juga memiliki delapan toko beras lain yang tersebar di kawasan Jabodetabek. Di antaranya di Pondok Ungu, Bintara, Kalimalang, Cilodong, Depok, Bintaro, dan Cengkareng.

Nah, jika ditotal, toko beras Nellys ini ada 13 unit yang nilai asetnya mencapai Rp 7 miliar-Rp 8 miliar. Dari 13 toko yang ia beri nama Nellys Jaya itu, ia mampu menjual sebanyak 50 ton beras per hari.

Dari penjualan itu, omzet yang dikantonginya mencapai sekitar Rp 500 juta per hari atau Rp 15 miliar per bulan. Sayang, ia tak mau menyebutkan laba bersih dari berjualan beras ini. "Yang jelas untungnya sedikit tapi kontinu," ujarnya.

Lantaran kondisi ekonomi orang tuanya yang lemah, ia pun memutuskan untuk merantau ke Jakarta. "Saya tamat SMA tahun 1990 dan langsung ke Jakarta," katanya.

Sama seperti kaum urban lainnya, tujuannya datang ke Jakarta untuk mengadu nasib. Tapi karena tidak memiliki keahlian, ia hanya bekerja serabutan dengan menjadi tenaga kasar di proyek-proyek bangunan.

Jika proyek sedang sepi, ia menghabiskan waktu dengan mengamen di terminal dan bus-bus kota. Sebagai pengamen, ia biasa mangkal di kawasan Blok M, Jakarta Selatan. "Tapi meskipun ngamen, saya tidak pernah melakukan sesuatu yang melanggar aturan," ujarnya.

Kendati demikian, ia tetap berusaha menyisihkan hasil jerih payahnya itu sedikit demi sedikit. "Selebihnya buat makan," ujarnya.

Di luar materi, sesungguhnya ia banyak mendapat pengalaman baru. Selain mendapat pengetahuan seputar ilmu akuntansi atau pembukuan, ia juga banyak mendapat relasi para pemasok beras dari berbagai daerah, seperti Cirebon dan Garut. "Selama bekerja saya selalu berusaha jujur, dan itu dinilai oleh para pemasok beras yang menjadi mitra bos saya," ujarnya.

Pada tahun 1993, ia memutuskan berhenti bekerja dari toko tersebut. Berbekal ilmu akuntansi dan relasi yang sudah dimilikinya, ia nekat berjualan beras sendiri.

Awalnya ia berjualan di los pasar induk dengan modal hanya Rp 3 juta. "Itu hasil menabung selama bekerja," ujarnya. Kendati bermodal cekak, tapi ia mendapat dukungan dari pemasok beras yang menjadi relasinya.

MODAL NELLYS : TEKUN, JUJUR DAN LUWES BERGAUL
Berani mencoba, jujur, dan tekun menjadi kunci sukses Nelly Soekidi dalam berbisnis. Sukses yang diraihnya diawali dari keputusan untuk membuka usaha sendiri di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) tahun 1993. 

Pemilik toko Nellys Jaya ini terbantu berkat hubungan baiknya dengan relasi, seperti pelanggan maupun para pemasok beras dari berbagai daerah di Jawa Barat, seperti Cirebon dan Garut. 

Awalnya ia berjualan di los pasar induk dengan modal hanya Rp 3 juta. "Saat itu, uang sebesar itu paling cuma bisa beli beras sebanyak 1 ton," ujar Nellys.

Tapi untungnya, kendati bermodal cekak, ia banyak mendapat dukungan dari pemasok beras yang menjadi relasinya. Dalam sehari, ia bisa mendapat pasokan beras 15 ton sampai 20 ton. Saat itu, para pemasok menerapkan sistem konsinyasi. 

Dengan sistem ini, ia baru bayar setelah beras habis terjual. Kadang juga masih dikasih tempo waktu selama seminggu. Namun, berkat pergaulannya yang luwes, beras dagangannya acap habis terjual hanya dalam waktu sehari atau dua hari. "Uang hasil penjualan itu langsung saya kasih ke pemasok, jadi habis langsung saya bayar," ujarnya. 

Lantaran penjualannya cepat dan langsung dibayar, para pemasok semakin percaya terhadap Nellys. Alhasil, dalam waktu singkat, usahanya dari berjualan beras di pasar induk makin berkibar. 

Oleh Nellys, uang hasil berjualan beras itu terus ditabungnya. Tidak seperti pedagang lain yang gaya hidupnya langsung berubah ketika bisnisnya berkembang. "Saat itu banyak teman-teman pedagang yang beli mobil, tapi kalau saya hanya ditabung saja," ujarnya. 

Lambat laun uang tabungannya semakin besar. Uang tersebut dipakainya buat menambah modal usaha. Setelah empat sampai lima tahun berjualan di los, ia pun berhasil membeli sebuah kios di pasar induk. "Harganya saat itu sekitar Rp 160 juta," ujar Nellys. 

Hingga saat ini, ia telah memiliki lima toko di pasar induk. Sementara di luar pasar induk tercatat delapan toko. Total karyawannya kini sudah 34 orang. "Saya banyak menampung saudara saya sendiri," ujarnya.

Setelah usahanya semakin maju, ia pun memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Ia berpikir, pendidikan bisa membantunya mengembangkan diri. Saat itu ia mengambil jurusan manajemen di salah satu perguruan tinggi swasta. "Saat kuliah itu, saya sudah punya istri dan dua anak," ucapnya.

Ternyata terbukti, ilmu yang dipelajarinya selama kuliah turut membantunya mengembangkan karier di dunia usaha. Setelah menyelesaikan studi, ia semakin jeli melihat peluang bisnis. Bila dirasa bakal menguntungkan, ia tak ragu untuk melakukan ekspansi. 

Contohnya, saat ia melihat peluang bisnis penggilingan padi di desa-desa yang berdekatan dengan area persawahan. Nah, "Saat itu saya melihat peluang tersebut ada di daerah asal saya Ngawi, Jawa Timur," kata Nellys. Maka, di tahun 2008, ia memutuskan untuk mendirikan pabrik penggilingan padi berkapasitas 25 ton per hari.

Sukses pak Nellys.. salam hangat kota Ngawi untuk Anda

Nellys, Jujur Dan Luwes Bergaul Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Ustad Rudi

 

Top